Ilusa » Diajukan 1954, Sekarang Baru Diakui

Berita Foto

Berita Baru:

REUNI PERAK IKA'84

pengeboran minyak

Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon (2)


Berita Lama:

Wayang Krucil di Kediaman Pramoedya 15.12.2008.

Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon 15.12.2008.

Ilusa Jogja Beraudiensi dengan Bupati mBlora 15.12.2008.

Diajukan 1954, Sekarang Baru Diakui

Diajukan 1954, Sekarang Baru Diakui

SM/Yusuf Gunawan Patung Brigjend Anumerta Ignasius Slamet Riyadi Suara Merdeka, Selasa, 13 Nopember 2007

Pahlawan Nasional Slamet Riyadi

MONUMEN patung Brigjend Anumerta Ignasius Slamet Riyadi di bundaran Gladag atau ujung Jalan Slamet Riyadi Solo, Senin (12/11), diresmikan Ksad Jenderal TNI Djoko Santoso. Dua hari sebelumnya saat peringatan Hari Pahlawan 10 November di Jakarta, Pemerintah RI mengangkat Slamet Riyadi sebagai pahlawan nasional dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama Adi Pradhana.

Pertanyaannya, mengapa pengangkatan gelar pahlawan nasional dan penganugerahan bintang mahaputera bagi Slamet Riyadi itu baru dilakukan sekarang. Padahal dia sudah banyak berjasa sebagai kusuma bangsa. Namanya juga dipakai di jalan-jalan di setiap kota besar dan diabadikan di berbagai lembaga, seperti sekolah, universitas, dan rumah sakit.

''Sebenarnya pengajuan Slamet Riyadi menjadi pahlawan nasional sudah diawali sejak tahun 1954, atau empat tahun setelah Slamet Riyadi meninggal dunia. Namun pengajuan itu kandas meski telah dilakukan berkali-kali. Banyak orang tidak suka atau merasa dirinya terancam peran sejarahnya, menjegal pengajuan itu. Tapi alhamdulillah, berkat perjuangan dan ketulusan kami pengangkatan Slamet Riyadi sebagai pahlawan nasional bisa terwujud,'' kata Bambang W Suharto, pemrakarsa pembangunan monumen Slamet Riyadi.

Tak Bermimpi

Menurut teman pahlawan nasional itu, Hardho Bantolo, Slamet Riyadi sama sekali tidak pernah bermimpi atau berharap untuk mendapatkan gelar kepahlawanan. Ia mengatakan, menjelang ajal setelah tubuhnya ditembus peluru pemberontak ketika memimpin operasi gabungan di Ambon (Maluku) untuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS), Slamet Riyadi mengumpulkan teman seperjuangan. Pak Met, begitu panggilan akrabnya, kata Hardho, meminta pada teman-teman seperjuangan untuk tidak bangga menjadi pahlawan.

Di rumah sakit tempatnya dirawat, lanjut dia, Pak Met yang usianya ketika itu belum genap 24 tahun dan berpangkat kolonel meminta teman dan anak buahnya melanjutkan perjuangan sampai titik darah penghabisan guna mempertahankan kemerdekaan dari pendudukan Belanda dan menumpas pemberontakan di berbagai daerah. ''Jangan bangga jadi pahlawan. Berikan apa yang kamu miliki tanpa mengharapkan sesuatu dari negara,'' kata Hardho yang akrab dipanggil mbah Dadho, di sela-sela peresmian monumen.

Mbah Dadho tahu betul siapa Slamet Riyadi yang lahir 1927. Pasalnya, dua orang yang usianya sebaya itu sejak umur empat tahun menjadi teman akrab sepermainan. Pertemanan itu dilanjutkan ketika keduanya bersama laskar lainnya berjuang.

Mbah Dadho mengaku, Pak Met tahu betul saat dirinya terserempet tiga peluru sewaktu mengusir Belanda dari Solo yang dikenal dengan peristiwa pertempuran 4 hari di Solo tahun 1949. Dirinya juga tahu betul ketika Slamet Riyadi diberondong senjata pemberontak hingga gugur sewaktu memimpin penumpasan RMS di Ambon pada 1950. ''Pak Met memang pernah berpesan pada para penerusnya untuk tidak mendewa-dewakan atau mengkultuskan dirinya setelah meninggal.''(Langgeng Widodo-62)

Kembali 13.11.2007.