Ilusa » Dibentuk, Timnas Perubahan Iklim

Berita Foto

Berita Baru:

REUNI PERAK IKA'84

pengeboran minyak

Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon (2)


Berita Lama:

Wayang Krucil di Kediaman Pramoedya 15.12.2008.

Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon 15.12.2008.

Ilusa Jogja Beraudiensi dengan Bupati mBlora 15.12.2008.

Dibentuk, Timnas Perubahan Iklim

Dibentuk, Timnas Perubahan Iklim

Ada Insentif bagi Industri yang Ramah Lingkungan

NUSA DUA - JawaPos Selasa, 11 Des 2007, Dampak perubahan iklim sangat dirasakan negara selatan, termasuk Indonesia. Karena itu, pemerintah secara serius menanggulangi dampak global tersebut dengan cara membentuk tim nasional perubahan iklim.

Berbagai program aksi nyata dalam upaya menurunkan emisi karbon mulai dirancang timnas yang beranggota dari lintas departemen tersebut. Mereka berasal dari Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, Departemen Perhubungan, dan Departemen Lingkungan Hidup.

"Dampak perubahan iklim mulai terlihat nyata. Karena itu, pemerintah merasa perlu segera membentuk tim nasional untuk mengatasi masalah ini," ujar Menteri Perdagangan Mari E. Pangestu dalam diskusi panel di sela-sela Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Hotel Westin kemarin (10/12).

Mendag mengatakan, untuk tahap awal mengantisipasi perubahan iklim, Indonesia kini fokus mengurangi emisi di bidang transportasi, terutama transportasi darat. Hal itu disebabkan sektor transportasi darat menyumbang emisi terbesar, yakni 88 persen dari total emisi gas karbon.

Fokus timnas, jelas Mendag, adalah mengubah alat transportasi menjadi energi efisien. Mari tak membantah bahwa pemerintah berupaya memberikan insentif bagi perusahaan ataupun industri di Indonesia yang menerapkan prinsip-prinsip ramah lingkungan. "Tapi, penerapannya masih kita kaji," bebernya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sandiaga Uno berharap rencana pemberian insentif yang disiapkan pemerintah benar-benar diaplikasikan dan tidak sekedar jargon politik. Sandiaga meminta insentif tersebut tidak hanya menjadi jargon politik untuk menyenangkan dunia usaha dan pelaku UKM. "Tolong, buktikan kalau memang kita diberi kemudahan dalam dunia usaha yang berkaitan dengan green clean environment ini," paparnya. Misalnya, kata dia, apakah izin bisa keluar dalam tiga hari.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Muhammad Lutfi mengakui, pemerintah juga akan melakukan sharing investasi dalam bentuk insentif, khususnya untuk pengembangan energi ramah lingkungan seperti energi geotermal.

"Semakin banyak insentif yang diberikan, kita berharap daya saing produk kita di pasar dunia semakin tinggi," tuturnya.

Lutfi menambahkan, biasanya bisa dibagi antara pengusaha dan pemerintah dengan cara insentif. Misalnya, untuk pengembangan geotermal. Dulu ongkosnya 7 sen per kilowatt jam. Sekarang dengan teknologi maju, mereka bisa dikenai tarif hanya 4, 9 sen.

"Saya yakin, penerapan prinsip ramah lingkungan di Indonesia tidak akan menurunkan minat investor berinvestasi di negara kita," ujarnya. (mus/kim)

Kembali 11.12.2007.