Berita Foto
Berita Baru:
Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon (2)
Berita Lama:
Wayang Krucil di Kediaman Pramoedya
15.12.2008.
Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon
15.12.2008.
Ilusa Jogja Beraudiensi dengan Bupati mBlora
15.12.2008.
Empat Kabupaten Rawan Pangan
11 Waduk di Jateng Kering, Suara Merdeka,Rabu, 05 September 2007
TIDAK TERENDAM: Yudi (7) bebas menggembala kambing di makam Godang, Kemusu, Boyolali. Pada musim hujan, areal makam ini selalu terendam genangan air. Namun hal itu tidak terjadi pada tahun ini, karena minimnya debit air Waduk Kedungombo.(30)
SEMARANG- Musim kemarau sekarang ini memicu terjadinya kerawanan pangan di beberapa daerah di Jateng. Ada empat kabupaten yang masuk daerah rawan pangan yakni Kabupaten Pati, Rembang, Blora, dan Sragen.
Kepala Badan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan (BBMKP) Jateng Ir Gayatri Indah Cahyani dalam rapat gabungan di Komisi B DPRD Jateng, Selasa (4/9), mengungkapkan keempat daerah itu menjadi perhatian serius pemerintah.
Pada Oktober sampai November nanti secara menyeluruh akan mendapatkan makanan bergizi melalui bantuan Pemprov Jateng. Selain itu melalui APBN diberikan bantuan paket usaha tani yang telah dialokasikan di 18 kabupaten/kota.
''Jangan sampai kerawanan pangan memunculkan masalah di kemudian hari. Karena itu, sekarang langkah antisipasi sudah mulai kami lakukan,'' jelasnya.
Dalam rapat gabungan itu, selain BBMKP juga hadir dari Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH), dan Bappeda. Rapat dipimpin oleh Ketua Komisi B Agna Susila didampingi Wakil Ketua DPRD Abdul Kadir Karding.
Menurut Kepala BPTPH Ir Siti Narwanti kekeringan telah melanda daerah-daerah di Jateng khususnya di bagian timur, termasuk daerah sentra padi seperti Demak, Sragen dan Klaten.
Krisis Air
Tercatat sejak Januari sampai Agustus, luasan lahan pertanian yang kering capai 118.081 hektare. Lahan sawah yang puso (gagal panen) karena kekeringan seluas 10.700 hektare.
Dari 20 kabupaten/kota yang melaporkan adanya kekeringan pada lahan pertanian, lanjut dia, paling banyak terjadi di Kabupaten Cilacap yakni seluas 4.163 hektare, Grobogan 854 hektare, Kabupaten Tegal 850 hektare, dan Purworejo 626 hektare.
''Irigasi teknisnya sudah tidak lancar lagi karena air dari waduk sudah menyusut,'' jelasnya.
Kepala Dinas PSDA Inu Kertapati mengakui beberapa waduk kecil di Jateng mengalami krisis air. Dari 38 waduk, 16 waduk di antaranya airnya masih normal, lalu 10 waduk kondisi airnya di bawah normal, 11 waduk lainnya kering (air kosong), dan satu waduk lainnya dalam perbaikan.
''Salah satu waduk besar yang mengalami krisis air adalah Kedungombo. Elevasi airnya telah menyusut dari batas normal,'' jelasnya.
Dia merinci, sejumlah waduk yang kondisinya di bawah normal di antaranya Rawa Pening, Gembong, Gunung Rowo, Song Putri dan Lalung. Sedangkan waduk yang kosong antara lain Tempuran, Greneng, Kedung Wurung, Parang Joho, dan Penawangan.
Selain waduk, kondisi bendung kontrolvoir (bendung yang ada di sungai) juga turut berpengaruh pada kondisi pengairan. Dari pantauan hingga akhir Agustus, ada 12 kontrolvoir yang rawan kekeringan di antaranya di wilayah Sungai Pemali Comal, yakni meliputi daerah Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, dan Batang.
"Sementara untuk wilayah Sungai Bengawan Solo terdapat 10 bendung kontrolvoir yang rawan yakni di daerah Sukoharjo, Sragen dan Boyolali," jelasnya.
Untuk mengatasi keringnya waduk dan kontrolvoir, dia menyatakan mengaku telah membuat hujan buatan. Upaya ini belum bisa terlaksana, karena harus meminta izin dari pemerintah pusat. Selain hujan buatan, hal lain yang dilakukan adalah sosialisasi hemat air.
Dia mengkhawatirkan jika keringnya waduk dan kontrolvoir tidak segera ditangani, maka hal itu akan mempengaruhi kondisi pengairan lahan pertanian di Jateng. Akibatnya, panen pada musim kering tahun ini dimungkinkan kurang optimal.
Gayatri menambahkan, kekeringan setiap tahun pasti ada, namun tidak mengganggu ketahanan pangan.
''Persediaan pangan sudah cukup hingga awal 2008. Lingkup luasan kekeringan hanya kecil, sehingga masyarakat tidak perlu risau,'' jelasnya. (H37,H7-60
Kembali
05.09.2007.