Berita Foto
Berita Baru:
Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon (2)
Berita Lama:
Wayang Krucil di Kediaman Pramoedya
15.12.2008.
Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon
15.12.2008.
Ilusa Jogja Beraudiensi dengan Bupati mBlora
15.12.2008.
Evakuasi ”Paksa” Agar Balik ke Pengungsian
KEDIRI - Jawa Pos, Jumat, 19 Okt 2007, Ribuan pengungsi yang pulang ke rumah karena menganggap aktivitas Gunung Kelud tak menunjukkan perkembangan signifikan kemarin dievakuasi paksa. Tim Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) sampai harus mendatangi satu per satu rumah warga dan mengajak mereka balik ke titik-titik penampungan yang sudah disiapkan.
Proses evakuasi itu dimulai pukul 13.00 WIB. Para petugas dari Polsek berkeliling desa menggunakan mobil patroli. Mereka menyerukan kepada warga bahwa kondisi Gunung Kelud sudah sangat membahayakan.
Semula warga kurang meresponsnya. Itu seperti terlihat di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, yang lokasinya paling dekat dengan kawah. Mendengar seruan petugas, mereka tetap berada di rumah dan tidak langsung berkemas-kemas. Padahal, puluhan truk, bus pemkab, dan kendaraan lain sudah disiapkan di jalan-jalan.
Warga baru bersedia dievakuasi sekitar pukul 18.00. Ini setelah aparat mendatanginya secara door to door. Warga lalu dibawa ke lokasi pengungsian di Desa Tawang, Kecamatan Wates, Kediri. "Katanya sekarang benar-benar meletus, ya turun (mengungsi)," ujar Fidi, 35, warga Dusun Rejomulyo, Sugihwaras, kepada Radar Kediri (Grup Jawa Pos).
Selasa malam lalu Fidi sudah mengungsi bersama keluarga. Namun, karena Kelud belum jadi meletus, mereka pulang esok harinya. Karena itu, dia mengaku akan pulang lagi jika hari ini Kelud tak jadi meletus. Alasannya, ternaknya tak bisa ditinggalkan.
Pemandangan yang sama terlihat di desa-desa lain. Seperti di Sempu, Ngancar. Ribuan warga diangkut bergantian dengan lima truk yang disediakan. Mereka diungsikan ke Desa Segaran, Wates.
Akibat membeludaknya gelombang pengungsi tersebut, sejumlah tempat tidak cukup untuk menampungnya. Seperti di Balai Desa Siman, Kecamatan Kepung. Ini lokasi pengungsian untuk warga Desa Kebonrejo dan Desa Kampung Baru di kecamatan yang sama.
Maklum, jumlah mereka sekitar empat ribu orang. "Iya Mas, sampai tidak muat ini," ujar Hariadi, salah seorang pengungsi, yang dihubungi wartawan koran ini tadi malam. Hingga pukul 20.30, gelombang pengungsi masih terus berdatangan.
Salah satu faktor yang membuat warga bersedia dievakuasi bisa jadi karena juru kunci Kelud, Mbah Ronggo, juga bersedia diajak ke pengungsian. Itu setelah dia dibujuk beberapa pejabat pemkab dan kepolisian.
Tak tanggung-tanggung, yang membujuk adalah Wakil Bupati Kediri Sulaiman Lubis dan Kapolwil Kediri Tjuk Basuki. Mereka sampai datang ke rumah Mbah Ronggo di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kediri.
Sekitar pukul 17.45, Mbah Ronggo diangkut dengan mobil menuju lokasi pengungsian di Desa Tawang, Kecamatan Wates. Sepanjang perjalanan sambil mengangkut Mbah Ronggo, polisi terus merayu warga agar bersedia mengungsi. Kesediaan Mbah Ronggo mengungsi dijadikan sebagai senjata.
"Sekarang Kelud sudah berbahaya. Mari ibu-ibu dan anak-anak kecil untuk mengungsi ke tempat pengungsian. Mbah Ronggo juga sudah ikut mengungsi," ujar petugas melalui pengeras suara di mobil patroli.
Tiba di pengungsian, Mbah Ronggo segera menyalami para pengungsi. "Saya mengungsi karena mengikuti anjuran bapak-bapak ini," ujarnya sembari menunjuk polisi.
Upaya evakuasi paksa agar warga kembali ke pengungsian ini diakui Kapolwil Kediri Kombespol Tjuk Basuki. Bahkan, kemarin dia menyempatkan diri mendatangi desa-desa yang warganya hendak dievakuasi. "Keterangan dari PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), Kelud pasti meletus," ujarnya saat ditemui sejumlah wartawan di pos pengamat Gunung Kelud di Desa Sugihwaras, Ngancar.
Sementara itu, aktivitas Kelud tetap tinggi. Data dari pos pengamat, hingga pukul 17.00, tercatat 28 gempa vulkanik dan sebelas kali gempa tremor. Suhu air kawah di kedalaman 15 meter masih 38 derajat Celsius. Lalu, di kedalaman 10 meter sebesar 37,2 derajat Celsius dan di permukaan 36,5 derajat Celsius.
Secara visual, warnanya tetap hijau keputih-putihan. "Makanya, statusnya tetap di level awas. Warga juga harus waspada dan mengikuti petunjuk satlak," ujar Ketua Tim Tanggap Darurat Kelud Kristianto.
Sempat Panik Level V
Warga yang tinggal di lereng Gunung Kelud, tepatnya di kawasan Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, tadi malam sekitar pukul 21.30 sempat panik. Sebab, muncul kabar bahwa status Awas Kelud sudah sampai level V. itu adalah level tertinggi. Artinya, dalam hitungan jam, gunung berapi tersebut akan meletus.
Tapi, kabar yang berembus melalui Radio Orari itu ternyata tak bisa dipertanggungjawabkan alias hanya isu. "Sempat terdengar kabar bahwa Kelud akan melahirkan (meletus). Namun, ternyata hanya isu," ujar seorang dokter yang bertugas di Puskesmas Puncu.
Menurut dokter Martha Kurnia Kusumawardhani, salah seorang anggota Brigade Siaga Bencana (BSB) RSU dr Soetomo yang diperbantukan di Puskesmas Puncu, selama status Kelud masih Awas, seluruh dokter yang bertugas terus mengadakan persiapan. "Kami terus mengadakan rapat koordinasi. Saat ini kami benar-benar waspada," ujarnya. (dea/tyo/git/ika/jpnn)
Kembali
19.10.2007.