Ilusa » NU-Muhammadiyah Upayakan Lebaran Bersama

Berita Foto

Berita Baru:

REUNI PERAK IKA'84

pengeboran minyak

Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon (2)


Berita Lama:

Wayang Krucil di Kediaman Pramoedya 15.12.2008.

Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon 15.12.2008.

Ilusa Jogja Beraudiensi dengan Bupati mBlora 15.12.2008.

NU-Muhammadiyah Upayakan Lebaran Bersama

NU-Muhammadiyah Upayakan Lebaran Bersama

SM/Antara PENENTUAN LEBARAN: Wapres Jusuf Kalla bersama Mensos Bachtiar Chamsyah, Din Syamsudin, dan Hasyim Muzadi usai membahas masalah penyamaan waktu Idul Fitri di Jakarta, Senin (24/9).(30)

Suara Merdeka, Selasa, 25 September 2007

JAKARTA - Kendati PP Muhammadiyah sudah mengumumkan bahwa hari raya Idul Fitri 1428 H akan jatuh pada Jumat, 12 Oktober 2007, tapi Muhammadiyah dan PBNU akan mengupayakan agar Lebaran tahun ini dan tahun-tahun berikutnya terdapat satu kesamaan tanggal.

Dalam upaya menyatukan suara menyangkut penetapan Idul Fitri dan hari-hari besar Islam lain tersebut, Senin (24/9) kemarin Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin menggelar pertemuan yang difasilitasi Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pertemuan yang berlangsung di Kantor Wapres Jl. Medan Merdeka Selatan, juga dihadiri Menteri Agama H Maftuh Basuni dan sejumlah pimpinan ormas Islam lain.

"Kita sepakat mengedepankan toleransi. Muhammadiyah sudah mengumumkan 12 Oktober. Tapi juga bisa tanggal 13 Oktober. Tadi dibicarakan upaya menghadapi hal semacam itu," kata Din Syamsudin usai pertemuan.

Din berharap perbedaan penetapan Idul Fitri antara NU dan Muhammadiyah tidak dibesar-besarkan, apalagi sampai muncul konflik. "Ini masalah keyakinan, bukan dibuat-buat atau motif politik," imbuhnya.

Hasyim mengakui selama ini di antara mereka terdapat perbedaan penafsiran dalam memahami Alquran dan hadits. Terutama dalam menentukan hari-hari besar Islam. Tapi dirinya sependapat dengan Din, perbedaan itu tak perlu dipertentangkan.

"Daerah perbedaan itu tak usah diubah menjadi pertentangan. PBNU dan Muhammadiyah akan berusaha keras mencari titik temu dari metodologi yang selama ini dipakai," ujarnya.

Hasyim menambahkan, ada kemungkinan NU dan Muhammadiyah tahun ini akan merayakan Lebaran secara bersamaan. Tapi semuanya tergantung pada penampakan rukyat pada tanggal 11 Oktober. Kalau ternyata tidak ada rukyat, maka bisa saja ada yang berlebaran tanggal 12 atau tanggal 13 Oktober.

Jalan Tengah

Mengenai adanya perbedaan penafsiran, Wapres mengusulkan untuk dicari jalan tengah. "Karena Wapres orang ekonomi, Wapres minta derajat Muhammadiyah diturunkan, dan derajat NU dinaikkan. Jadi bisa cash and carry," tutur Hasyim.

Untuk mempersempit perbedaan, kedua ormas Islam ini sepakat menggelar beberapa kali pertemuan. Pemerintah berharap dengan pertemuan itu perbedaan awal puasa, Idul Fitri dan Idul Adha tidak terjadi lagi di masa mendatang.

"Ini tidak bakal lebih dari tiga atau empat kali pertemuan. Kalau sudah ada kesepakatan, jangan ada kemerocot lagi," ujar Menag.

Din mengatakan, NU dan Muhammadiyah sudah sepakat menggelar pertemuan ahli-ahli dari kedua ormas untuk mendiskusikan masalah ini. "Pertemuan pertama diawali di PBNU, dan kemudian di PP Muhammadiyah," kata dia.

Dia berharap pertemuan tersebut akan menghasilkan titik temu yang selama ini dinilai sebagai perbedaan. "Tapi jika belum ada wilayah-wilayah yang bisa ditoleransi, jangan dibesar-besarkan."

Hasyim menambahkan, jika belum terdapat titik temu, masyarakat harus siap menerima perbedaan hari raya. "Puasa 29 hari bagus, 30 hari bagus. Yang tidak bagus itu yang tidak berpuasa," katanya. (A20-49)

Kembali 25.09.2007.