Ilusa » Pabrik SS Rp 415 M Digulung

Berita Foto

Berita Baru:

REUNI PERAK IKA'84

pengeboran minyak

Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon (2)


Berita Lama:

Wayang Krucil di Kediaman Pramoedya 15.12.2008.

Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon 15.12.2008.

Ilusa Jogja Beraudiensi dengan Bupati mBlora 15.12.2008.

Pabrik SS Rp 415 M Digulung

Pabrik SS Rp 415 M Digulung

Jaringan Distribusi di Jakarta Juga Digerebek
BATAM - Jawa Pos Selasa, 23 Okt 2007, Aparat polisi berhasil membongkar jaringan internasional narkoba yang beroperasi di Batam, Kepulauan Riau. Di TKP yang kemarin diperiksa Kapolri Jenderal Pol Sutanto itu ditemukan pabrik sabu-sabu dengan barang bukti sekitar 150 galon atau sama dengan 568 liter. Bila dipadatkan, jumlah ini setara dengan 568 kilogram ice crystal.

Hasil penggerebekan kali ini termasuk luar biasa. Barang bukti itu nilainya mencapai sekitar USD 45 juta atau setara Rp 415 miliar. Ini dengan asumsi harga sabu-sabu Rp 900 ribu per gram.

SS tersebut ditemukan di Kompleks Pertokoan Hup Seng, Blok C Nomor 8, Batam Centre. Dari rumah itu aparat juga menyita sebuah mobil Mercedes Benz nomor polisi BM 124 XL dan Mitsubishi Grandis nomor polisi BM 2224 XD.

Menurut laporan Batam Post (Grup Jawa Pos), polisi tak hanya menggerebek pertokoan yang dijadikan gudang hasil produksi jaringan narkoba itu. Aparat juga berhasil membongkar tiga lokasi lain yang masih berada di Batam serta jaringan di Jakarta.

Tiga lokasi lain di Batam adalah pergudangan Taman Niaga Blok E No 3, Kawasan Industri Panbil, Mukakuning; kompleks Duta Mas, Cluster II No 57 Batam Center; dan kompleks pergudangan Hijrah Karya Mandiri Blok C No 5.

Dari empat tempat itu, polisi mengamankan enam tersangka. Dua di antaranya warga Taiwan, yakni Wang Chin-I, 52, dan Tsai Tsai Cheng, 53. Empat tersangka lain berkewarganegaraan Indonesia. Mereka adalah Jaelani Usman, 28; Darwin Silaban, 25; Syaed Abubakar, 54, dan Apeng, 42.

Terbongkarnya tempat produksi SS itu hasil kerja sama BNN dengan aparat Singapura dan Hongkong. "Berbulan-bulan kita ikuti sindikat ini. Ya, sekitar tiga bulanlah," ungkap Kapolri Jenderal Pol Sutanto kepada sejumlah wartawan di Bandara Hang Nadim, Batam, kemarin.

Sutanto mengatakan, empat pabrik yang digerebek itu saling terkait. Di empat lokasi itulah sabu-sabu yang bisa merusak jutaan generasi muda diproduksi.

Saat meninjau lokasi, Kapolri didampingi Pelaksana Harian BNN Komjen Pol I Made Mangku Pastika, Kabareskrim Komjen Pol Bambang Hendarso Danuri, Irwasum Polri Komjen Pol Yusuf Manggabarani, dan Kapolda Kepri Brigjen Pol Sutarman. Juga terlihat Gubernur Kepri Ismeth Abdullah.

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah kompleks pergudangan Taman Niaga Blok E No 3, Kawasan Industri Panbil, Mukakuning. Di gudang inilah, proses pengolahan pertama clandestine laboratory dilakukan. Di sini dilakukan pengelolaan sampai tahap sabu cair kualitas rendah.

Sejumlah benda berserakan di sana. Dari ember, tumpukan karung, hingga botol berisi cairan. "Bahan bakunya dari Singapura dan Taiwan. Tapi, akan kita selidiki lagi. Yang jelas, ini sindikat internasional," kata Kapolda Sutarman di sel-sela pemantauan pabrik sabu-sabu di kawasan Mukakuning tersebut.

Dari sini rombongan memeriksa Kompleks Duta Mas, Cluster II No 57 Batam Center. Di perumahan dengan dua kamar itu diketahui sebagai gudang penyimpanan proses pertama clandestine laboratory. Dari sini, polisi mengamankan barang bukti berupa dua unit kompor gas.

Di tempat tersebut tidak terlihat sejumlah bahan maupun alat peracikan SS. "Di sini kosong karena sudah dipindahkan. Alasannya bau menyengat bisa menyebar ke rumah warga," kata Sutarman.

Hanya beberapa menit memantau pabrik SS yang bertempat di kawasan perumahan tersebut, rombongan Kapolri melanjutkan pantauan ke Kompleks Pergudangan Hijrah Karya Mandiri Blok C No 5. Di pabrik itulah, pengeringan dilakukan dengan mesin. Gudang yang terletak di kawasan Berikat Simpang Franky, Batam Center, tersebut memiliki luas 360 M2 (30 m x 12 m). Dari penyelidikan sementara, di tempat itu bisa diproduksi kristal sabu kualitas kurang baik dan masih berbau.

Dari penggerebekan di lokasi tersebut, polisi mengamankan barang bukti berupa 50 gram garam, 25 galon aceton, dan sejumlah bahan kimia yang masih diteliti Mabes Polri.

Pabrik terakhir yang didatangi adalah Kompleks Pertokoan HUP SENG, Blok C No 8 Batam Center (samping RM Suri Bundo). Rangkaian pengolahan SS bermuara di tempat itu. "Tempat pengolahan akhir, sabu cair jadi kristal," kata Sutarman saat mengitari ruang ruko berlantai tiga seluas 20 m x 5m tersebut.

Sejumlah barang bukti masih tersimpan di sana. Di antaranya, filter paper, botol berisi bahan kimia, timbangan, kulkas, mesin cuci, jeriken, ember, dan tungkus (tempat memasak).

Dari Batam, rombongan Kapolri langsung menuju kawasan Jakarta Utara. Tepatnya di Karangsari Muara Karang Blok P 7 Selatan. Di rumah itulah, hasil produksi Wang Chin-I yang hendak dipasarkan di Jakarta dikirim. Di rumah yang disewa dari Leo dengan harga 60 juta per tahun tersebut, sejak setahun terakhir ini juga ditemukan barang bukti sabu-sabu.

Jumlahnya 40 kg sabu-sabu yang siap edar di dalam koper, 19 kg bahan kimia yang setengah jadi, dan 23 kg sabu siap edar. "Ini luar biasa," kata Kapolri sambil menggelengkan kepala. Rumah tersebut digerebek kemarin pagi hasil pengembangan dari Batam. Di rumah itu, polisi menangkap Apeng yang mengirimkan barang untuk Awi alias Darwin Silaban. Namun, kedua orang itu tidak dihadirkan di depan wartawan tadi malam. Yang dihadirkan justru Wang Chin-I yang terus menunduk.

Direktur IV Narkoba dan Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigjen Pol Indradi Thanos mengatakan bahwa kualitas sabu-sabu hasil produksi Wang Chin-I cs itu tidak kalah dengan produk dari pabrik di Cikande yang digerebek pada Desember 2005. "Hasilnya memang bagus, tapi soal kemampuan produksinya memang sedikit di bawah Cikande," kata Thanos saat dihubungi tadi malam.

Menurut mantan Kapolres Surabaya Selatan itu, sindikat kali ini juga belum terkait dengan Cikande. "Semuanya nama baru. Meski ada ancaman hukuman mati, mereka nekat karena bisnis ini memang menguntungkan," imbuhnya. Selain di Indonesia, produk hasil produksi mereka dijual ke Taiwan dan Tiongkok daratan. Thanos memperkirakan total semua bahan baku, bahan jadi, dan alat produksi yang disita polisi mencapai Rp 1 triliun. (naz/jpnn)

Kembali 23.10.2007.