Berita Foto
Berita Baru:
Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon (2)
Berita Lama:
Wayang Krucil di Kediaman Pramoedya
15.12.2008.
Baksos Ilusa Jogja: Menanam Bibit Pohon
15.12.2008.
Ilusa Jogja Beraudiensi dengan Bupati mBlora
15.12.2008.
Perpustakaan keliling berkaki empat
Salah satu universitas di Venezuela menggunakan cara baru untuk membawa book ke masyarakat terpencil dan mendorong warga suka membaca. Gagasan ini terbukti sangat berhasil.
BBCIndonesia 05 Agustus, 2007
Anak-anak desa sanga gemar membaca buku yang diangkut keledai
Chiquito dan Cenizo menyambut saya dengan lenguh dan kibasan ekor.
Keledai terlalu kasar untuk bersikap manis. Mereka melakukan pekerjaan keras yang tidak bisa dilakukan binatang atau teknologi temuan manusia.
Namun, keledai-keledai ini agak khusus.
Mereka dikenal sebagai bibliomulas (keledai pustaka) dan mereka membantu menyebarkan manfaat membaca kepada warga yang terisolasi dari sebagian besar wilayah dunia di sekitar mereka.
Perjalanan saya bermula dari Lembah Momboy di Trujillo, salah satu negara bagian Venezuela di Pegunungan Andes.
Tempat-tempat itu berada di kaki bukit Andes, tapi cukup tinggi, khususnya jika anda berjalan kaki.
Pelahan, tapi mantap
Gagasan mengerahkan keledai untuk mengangkut buku dan membawa bahan bacaan itu ke desa-desa pegunungan dimulai oleh University of Momboy, lembaga pendidikan kecil yang membanggakan diri soal berbagai prakarsa berbasis masyarakat yang digulirkannya dan berbuat lebih banyak daripada yang diwajibkan oleh undang-undang kepada perguruan tinggi di Venezuela.
Pemandu lokal Ruan, yang tahu sedikit banyak tentang keledai, menyertai kami.
Dia menjadi bos mereka. Secara berhati-hati, dia mendorong kedua keledai itu saat mereka mendaki bukit dengan langkah yang pelahan tapi mantap.
Jalan setapak yang kering nan berdebu itu berliku-liku ke atas. Matahari menyengat bagian belakang leher saya.
Kami terengah-engah, kecuali Ruan.
Mengakrabi buku
Saat istirahat datang ketika tiba giliran saya menunggang keledai itu. Saya menikmati pemandangan indah lembah itu, tapi berpegangan erat-erat saat Chiquito berbelok di tepi bibir bukit.
Kepanasan dan sedikit kesal setelah dua jam perjalanan, kami mencapai Calembe, desa pertama di jalur ini.
Siapa pun yang tidak bekerja di tanah pertanian -- mengurus seledri yang merupakan tanaman budidaya utama di sini, menunggu kedatangan kami. Ke-23 anak di sekolah kecil bersuka cita.
"Bibilomu-u-u-u-las," teriak mereka saat tas-tas berisi buku diturunkan dari punggung keledai.
Mereka mengerumuni buku itu penuh semangat, ingin merebut buku terbaik dan dalam beberapa menit judul-judul itu telah dibacakan oleh oleh Christina dan Juana, dua pimpinan proyek pustaka ini.
"Menyebarkan kegembiraan membaca adalah tujuan utama kami," kata Christina Vieras kepada saya.
"Tapi lebih dari itu. Kami membantu mendidik orang soal hal-hal penting lain seperti lingkungan. Semua anak menanam pohon. Apa saja untuk memperbaiki taraf hidup dan menghubungkan masyarakat," tambahnya.
Internet
Sementera proyek ini berkembang, teknologi terbaru mulai dipergunakan.
Sinyal telepon genggal bisa ditangkap meski terbatas di tempat ini. Jadi, panitia memanfaatkan teknologi tersebut dan membekali keledai dengan komputer jinjing dan proyektor.
Keledai buku itu kini menjadi keledai internet dan keledai bioskop.
"Kami ingin memasang modem wireless di bawah pohon-pohon pisang, sehinga warga desa bisa menggunakan internet," kata Robert Ramirez, koordinator Jaringan Sekolah Pedesaan Ingin Maju milik University of Momboy.
"Bayangkan jika orang di desa-desa miskin di lembah ini bisa mengirimkan e-mail untuk memberitahukan jumlah tomat atau seledri yang mereka perlukan pekan depan," katanya.
"Para petani bisa menjawab dengan memberitahukan jumlah yang mereka bisa hasilkan. Ini memadukan lokalisasi dan globalisasi," katanya.
Mengangkut obat
Tim keledai pustaka menggelar permainan berisik dengan anak-anak, mendengar mereka membaca buku, dan bersantap siang dengan warga dewasa sambil membahas cara masyarakat bisa mengembangkan proyek ini sambil menghabiskan sup dan roti jagung.
Salah satu gagasan yang muncul adalah menggunakan keledai untuk mengangkut obat-obatan yang susah diperoleh di sini.
Semua orang yang saya jumpai, baik dewasa maupun anak-anak, sangat bersemangat.
"Nikmat. Saya sangat suka membaca buku dan kami mendapat cerita yang benar-benar menarik," kata Jose Castillo, 12 tahun.
Perpustakaan bergerak berkaki empat ini tidak hanya membuat tempat ini hidup, tapi juga membuatnya berkembang.
Kembali
09.08.2007.