|
(Gaya cerita: Flash Back)
“ Ya. Tak ada kemerdekaan 100 persen di dunia ini, Adimas. Kemerdekaan haqiqi semacam itu hanya akan Adimas peroleh di akherat nanti. Itupun jika Adimas masuk syurga. Bahkan sebaliknya jika di akherat nanti Adimas masuk neraka, yang ada adalah penindasan sepanjang masa sampai pengampunan itu tiba. Seumur penciptaan jagad raya ini, kemerdekaan yang utuh di dunia ini belum pernah dan tidak akan pernah diraih dan dirasakan oleh siapapun.
Meskipun tidak ada kemerdekaan haqiqi di dunia, namun posisi kehidupan di dunia menjadi sangat penting. Sebab selamat dan tidaknya seseorang menjalani kehidupan dunia menentukan teraih tidaknya kemerdekaan haqiqi di akherat nanti. Orang yang selamat artinya adalah orang yang menggunakan petunjuk pemberian Tuhan yang bisa berupa kitab suci, ayat-ayat kauniyah dan kauliyah, maupun sunah nabi dan rosul-NYA, apapun agamanya.
Oleh karena itu mengisi kemerdekaan Indonesia bisa dimaknai sebagai menjalankan segala aspek kehidupan termasuk didalamnya bekerja apapun menjalani profesi untuk hidup, mengatur kehidupan berbangsa, bernegara, beragama, bersosial dan berbudaya yang sesuai dengan aturan Tuhan, kapanpun, dimanapun, dan oleh siapapun. “, itulah kalimat terakhir yang secara jelas masih bisa aku dengar dan ingat dari sahabat karib imajinerku, yang tiba tiba menghilang begitu saja sekejab setelah aku dibangunkan oleh pak RT dari tidurku di posko reot itu.
|