Register
Contact
Login

Login



Register

Register

Question

Contact



Pencarian

Alumni Login

Alumni Online

None

Pengunjung Online

  • [Bot]
Now online:
  • 1 robot
Latest members:
  • sosoakan
  • cahyo_sbsi1992
Total members: 764
MERDEKA 100 PERSEN PDF Print E-mail
Administrator | Thursday, 20 August 2009 07:00

(Gaya cerita: Flash Back)

“ Ya. Tak ada kemerdekaan 100 persen di dunia ini, Adimas. Kemerdekaan haqiqi semacam itu hanya akan Adimas peroleh di akherat nanti. Itupun jika Adimas masuk syurga. Bahkan sebaliknya jika di akherat nanti Adimas masuk neraka, yang ada adalah penindasan sepanjang masa sampai pengampunan itu tiba. Seumur penciptaan jagad raya ini, kemerdekaan yang utuh di dunia ini belum pernah dan tidak akan pernah diraih dan dirasakan oleh siapapun.

Meskipun tidak ada kemerdekaan haqiqi di dunia, namun posisi kehidupan di dunia menjadi sangat penting. Sebab selamat dan tidaknya seseorang menjalani kehidupan dunia menentukan teraih tidaknya kemerdekaan haqiqi di akherat nanti. Orang yang selamat artinya adalah orang yang menggunakan petunjuk pemberian Tuhan yang bisa berupa kitab suci, ayat-ayat kauniyah dan kauliyah, maupun sunah nabi dan rosul-NYA, apapun agamanya.

Oleh karena itu mengisi kemerdekaan Indonesia bisa dimaknai sebagai menjalankan segala aspek kehidupan termasuk didalamnya bekerja apapun menjalani profesi untuk hidup, mengatur kehidupan berbangsa, bernegara, beragama, bersosial dan berbudaya yang sesuai dengan aturan Tuhan, kapanpun, dimanapun, dan oleh siapapun. “, itulah kalimat terakhir yang secara jelas masih bisa aku dengar dan ingat dari sahabat karib imajinerku, yang tiba tiba menghilang begitu saja sekejab setelah aku dibangunkan oleh pak RT dari tidurku di posko reot itu.
Benar saja, suasana sekitarpun telah sepi, dan gapuro itupun telah kelihatan lebih megah dari sebelumnya. Akupun beranjak dan berdiri. Dengan masih merasa hayub-hayuben dari bangun tidur yang mendadak dan kurang sempurna, aku langkahkan kakiku untuk melanjutkan tidur di rumah dengan membawa sebuah rasa penasaran di hati. Rasa penasaran itu adalah, mengapa kali ini omongan sahabat karib imajinerku (SKI) begitu religius bahkan mirip mirip dengan wewarah guru spiritual imajinerku (GSI). Meskipun masih terasa sedikit nuansa liberalnya, namun tidak seperti pandangan pandangannya yang biasanya selama ini, yang menurutku sangat murni ultra nasionalis-liberal, sekuler lagi.

-=o0o=-

Hari itu memang telah ada kesepakatan bahwa dalam rangka persiapan peringatan 17-an bapak bapak warga RT-03 harus kerja bakti untuk membersihkan dan mengecat gapuro RT yang sudah 2 tahun belakangan tidak tersentuh. Pada kesepakatan itu telah ditentukan bahwa kerjabakti dimulai sekitar pukul 19.30 atau waktu sekitar habis sholat isya.

Walau badan terasa penat dan capek sehabis kerja seharian, tepat sehabis sholat isya aku segera keluar rumah sambil membawa peralatan seadanya menuju gapuro RT. Sengaja aku datang paling awal agar nanti juga bisa ijin pulang lebih awal untuk segera tidur memulihkan stamina yang terkuras.

Sesampai di gapuro belum ada satu orangpun yang telah datang kecuali aku. Segera aku mengelap tiang gapuro supaya debu yang menempel bisa tersapu. Kemudian aku teruskan dengan mengkorek korek cat tiang gapuro yang telah pecah pecah akibat dimakan umur dan cuaca menggunakan tatah berang yang telah aku persiapkan dari rumah.

Setelah kurang lebih setengah jam aku kerja sendirian, satu per satu warga mulai datang. Terlihat pula pak RT datang membawa cat berwarna putih, biru, hitam, merah dan kuning beserta minyak catnya untuk memperjelas lagi warna-warni gapuro seperti sedia kala. Dengan semakin banyaknya warga yang bekerja bersama membuat aku semakin semangat. Tak terasa sudah 1 jam lebih aku membersihkan tiang gapuro.

Karena aku merasa kerja lebih dulu, aku ingin istirahat lebih awal. Peralatanku aku berikan pada bapak-bapak yang lain yang sedari tadi tidak nyandak gawe karena tidak kebagian tempat dan tidak membawa alat. Namun aku tidak langsung pulang, tetapi aku langkahkan kakiku menuju tanah kosong di seberang gapuro itu dimana berdiri sebuah posko milik sebuah partai politik besar dari klan Soekarno hasil reformasi tahun 1998 yang memang latah dibangun dimana mana oleh banyak partai pada saat itu.

Di posko bambu yang sudah mulai reot itu, aku rebahan dan menyandarkan badanku sambil sesekali memberi komentar pada bapak-bapak yang sebagian sudah mulai mengecat tiang gapuro. Tak kusangka, karena memang kondisi badan yang sudah lelah lama lama aku `tertidur ayam`, mata terpejam, namun sesekali melek dengan tingkat kesadaran yang sangat rendah.

Pada saat itulah ternyata sahabat karib imajinerku (SKI) datang menghampiriku. Sahabat yang telah lama menghilang kini tiba tiba muncul dihadapanku. Ya, itulah sahabat karib imajinerku yang kedatangannya tidak bisa dicagerke. Kadang-kadang datang begitu saja pada saat saat sing ora kanyono. Tapi seringnya sangat susah sekali bahkan mustahil untuk sekedar ber-say hello, ber-SMS apalagi bertemu muka dan berdialog pada saat saat kehadirannya aku harapkan. Meskipun pada saat ketemu sering diwarnai `padu` tentang berbagai hal mempertahankan pendapat masing masing, namun jika lama tidak bertemu muncul juga kerinduan di hatiku, sepertinya demikian juga yang dia rasakan.

Demikian pula malam itu, tiba tiba dia datang dan menyapa, “ Lagi ngopo Adimas (begitulah dia memanggilku) kok koyone suntuk klekaran nang kene “, kata dia membuka salam pertemuannya denganku.

Aku tidak langsung menjawab pertanyaan basa basinya, namun malah melontarkan pertanyaan balik dan sedikit menggodanya, “ Lho, pripun kabare. Wis suwe rak ketemu kok Kangmas (inilah kata sebutanku untuknya) kayane tambah makmur. Wah kayane kok tambah suibuuk buanget… dadi anggota dewan, yo..!?.

“ Dadi anggota dewan gundulmu….Piye kabare Adimas saiki? Lha kok mung tura turu wae ngene iki piye? ”, sahutnya sambil klecam klecem seperti biasanya.

“ Apik-apik wae kok, Kangmas. Iki lho… aku lagi melu kerjabakti ngresiki gapuro. Kegiatan rutin tahunan kanggo persiapan memperingati 17-an, biar para proklamator di alam baka sana tidak menangis, karena para generasi muda masih peduli dengan eksistensi kemerdekaan bangsanya. “, jawabku mencoba berapologi dengan mengambil dalil pembenaran seadanya.

“ Yah…yah…yah… Lha wong ndlosor nang posko ngene kok kerjabakti. Lagi pula, kalau sudah kerjabakti ngresiki gapuro koyo ngono kuwi opo wis menjamin nek para pahlawan disana itu tidak menangis melihat kondisi bangsa ini sekarang. ”, cetusnya.

“ Oh iyo yo, Kangmas. Aku saiki yo tambah ora mudheng karo perilakune sebagian besar rakyat bangsa kita saiki iki. Jarene jaman reformasi kok malah koyo ngene. Mulai soko elit-elite nganti tekan rakyat jelatane kok okeh sing podho lali karo budoyo adiluhung bongso sing wis tau moncer lan kawentar nganti tekan monco negoro kae. Poro elite podho ngrampog duwit negoro, rakyat jelatane podho rak weruh toto kromo “, begitu kataku menyepakati statementnya.

Aku lihat sahabatku itu cuma manggut manggut saja, maka aku teruskan rangkaian kata kataku, “ Coba, Kangmas kan tahu, garasi mobilku itu langsung menghadap jalan raya. Meskipun disana sudah aku tulisi kalimat `Mohon maaf untuk tidak parkir di depan pintu garasi` begitu. Namun kenyataanya masih ada saja yang parkir di depan pintu itu. Sering memang aku biarkan. Tapi suatu ketika tepat ketika aku mau keluar pakai mobil mendadak ada yang parkir di depan pintu itu. Maka mau tak mau harus aku peringatkan. `Mas tolong jangan parkir di sini sebentar, aku mau keluar dulu ya!`. Apa jawabnya coba? Dia malah berkata dengan ketus, `Lha wong jalan umum kok nglarang nglarang`. Hehehe…. Aku jadi ketawa sendiri. Dia bicara tentang hak kepentingan umum, tapi tidak tahu definisi kata kepentingan umum itu sendiri. “.

Setelah dengan khusuk mendengarkan celotehku dia baru menyahut, “ Yo wis ngono kuwi kondisi bangsane Adimas saiki. Kayane bangsa kita bisa mempunyai budaya adiluhung bila dalam kondisi tertekan, deh. Dalam kondisi bebas seperti ini malah menjadi kacau. Seharusnya, bebas boleh bebas, tapi harus disertai tanggung jawab. Tidak ada kata bebas itu sebebas bebasnya. Apalagi dalam hidup berbangsa…., bernegara…, bermasyarakat…. Kita harus taat hukum. ”.

“ Wah ngono yo, Kangmas. Sak ploke dadi anggota dewan ngendikane sampeyan kok tambah mlithit. Jan-jane dadi anggota dewan jendral opo dewan kopral tho sampeyan saiki iki…hehehe….”, begitu aku menanggapinya sambil melontarkan sebuah candaan.

“ Tidak ada negara maju di dunia ini yang tidak menerapkan peraturan dan hukum yang ketat terhadap rakyatnya. Negara seperti Jepang, AS, Inggris, Perancis, Jerman dll adalah contohnya. Bahkan seperti Singapura, kita mau makan dan sekedar meludah apalagi muntah-muntah di tempat umum, itu ada aturannya. Tapi coba bangsa kita, setiap kali ada undang-undang mau dirumuskan, maka terjadi polemik berkepanjangan. Maunya bebas merdeka tanpa aturan. Bahkan termasuk UU anti pornografi dan pornoaksi pun ditentang. Katanya bangsa timur yang menjunjung tinggi nilai nilai kesopanan, tapi begitu dibuat peraturan mereka menentang. Kita contohlah bagaimana Tuhan itu membekali petunjuk dan peraturan untuk manusia menjalani hidupnya di dunia “, katanya menandaskan.

“ Oh begitu ya Kangmas. Jadi kalau begitu, meskipun kita telah merdeka, tapi tetap menjadi terjajah dong. Terjajah oleh peraturan dan undang undang yang semakin banyak dan kita bikin sendiri. “, sergahku padanya memberikan antitesa.

“ Justru itulah syarat tegak berdirinya sebuah bangsa. Kita harus membuat peraturan yang banyak untuk menjamin berlangsungnya kehidupan bersama. Supaya Adimas juga bisa bebas keluar masuk pakai mobil dari garasinya itu, begitu…!”, katanya menyindir.

“ Wah berarti tidak ada kemerdekaan 100 persen dong ya. Terus, bagaimana kaitanya dengan cara mengisi kemerdekaan itu Kangmas? ”, tanyaku selanjutnya.

Oleh: Hardi Wibowo

Medio Agustus 1999

(diedit lagi: 17 Agustus 2009)

   Copyright © 2010 www.ilusa.net - All Rights Reserved
   Developed By: SariWh

Sekretariat: Jl. Bumi Putra II/10A Rawamangun -Jakarta Timur 13240
Telp. 021-4721809, Email: ilusa_05@yahoo.com
Bank Account : BCA KCP RAWAMANGUN A/N Sri Purnomowati/ Sunardji No 0940692105